BERKARYALAH: AGAR TAK HILANG DAN LENYAP BEGITU SAJA

IMG_0094

BERKARYALAH: AGAR TAK HILANG DAN LENYAP BEGITU SAJA

Oleh Agoy Tama

“Jika tak ingin hilang dan lenyap begitu saja, maka berkaryalah.” –Agoy Tama.

Berkarya adalah tentang upaya menciptakan sesuatu. Dan sesuatu itu dikatakan sebagai karya, setidaknya jika mempunyai dua ciri, yaitu mempunyai nilai estetika dan mengandung makna. Berkaya, menurut KBBI Luring 1.5.1, adalah mencipta (mengarang, melukis, dan sebagainya). Dalam artian, orang mencari kepuasan dalam hal berkarya.

Bagi saya, berkarya adalah ikhtiari menghadirkan sesuatu yang mampu berdaya dan menjadi satu tanda bahwa saya ada. Bukan sebagai ajang mencari eksistensi diri. Tetapi, lebih mengarah pada eksistensi ide atau gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan yang dimiliki. Lantas, untuk apa eksistensi itu?

Eksistensi ide atau gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan itu bagi saya adalah sesuatu yang layak ‘diadakan’ dan ‘diabadikan’. Sebab, kita tak selamanya ada. Manusia punya batas usia yang kelak akan memaksanya hilang dari dunia. Maka, salah satu jalan agar diri kita mampu memberikan ‘sesuatu’ kepada lebih banyak orang di dunia—meski raga telah berpisah dengan ruhnya—adalah dengan berkarya. Seperti kata Sapardi dalam puisinya,

“yang fana adalah waktu. kita abadi.”

Saya sepakat dengan Sapardi. Tetapi, barangkali ada yang harus saya beri tanda kutip tunggal dalam penggalan puisinya itu menjadi,

“yang fana adalah waktu. ‘kita’ abadi.

Artinya, kata “kita” dalam penggalan puisi itu tidak bisa ditafsirkan secara apa adanya. Tetapi, harus digali lagi, apa makna sesungguhnya yang ada dalam kata itu. Saya menafsirkan kata “kita” dalam penggalan puisi Sapardi itu sebagai alasan kenapa saya harus berkarya. Karena kita sebagai manusia percaya bahwa waktu perlahan akan meniadakan kehidupan kita. Tetapi, ide/gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan kita yang dialih-wujudkan menjadi sebuah karya, maka ia akan tetap bertahan dan terus berdaya meski kita telah tiada. Jadi, kata “kita” dalam penggalan puisi itu mungkin lebih tepat jika ditafsirkan sebagai ide/gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan yang dimiliki oleh “kita” itu sendiri.

Tak berhenti cukup di situ, agar ide atau gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan yang dimiliki oleh “kita” itu abadi, berdaya, dan mampu ditemukan oleh sebanyak mungkin orang, maka semuanya harus dialih-wujudkan menjadi sebuah karya. Semua harus benar-benar ada, berwujud, dan mempunyai ‘tubuh’ atau ‘rumah’.

TUBUH ATAU RUMAH BAGI IDE/GAGASAN, PEMIKIRAN, DAN PERASAAN-PERASAAN

Puisi dan prosa bagi saya adalah tubuh atau rumah yang sangat nyaman bagi ide/gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan saya. Dengan keduanya, saya bisa mengekspresikan semua yang ada di kepala saya. Dengan keduanya, saya bisa memperbaiki suasana hati. Bisa juga mengurangi beban diri.

Sebelum menuju puisi dan prosa, saya ingin berbagi soal beberapa pandangan saya tentang arti menulis bagi saya. Pertama, menulis bagi saya adalah terapi. Usai menulis, biasanya kita akan merasa plong dan suasana hati akan jauh lebih baik. Misalnya, saat suasana hati kita keruh karena suatu perkara yang tidak bisa segera diselesaikan, maka dengan menuliskannya terkadang akan mengurangi beban itu. Ketika sedang marah atau dendam dengan seseorang, dan tidak mau ada urusan panjang dengannya, maka menuliskan semua uneg-uneg adalah semacam terapi yang sangat baik. Saat banyak pikiran, maka tuliskan. Jangan hanya disimpan. Jika disimpan terus-terusan, boleh jadi justru akan menyakiti diri sendiri. Maka menulis bagi saya adalah terapi.

Kedua, menulis adalah ekspresi jiwa juga ide/gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan yang saya punya. Maka, di dalam dunia sastra, ideologi dan latar belakang penulis bisa dilacak dengan meneliti bagaimana karya-karyanya. Dan sebuah karya, biasanya dipengaruhi oleh apa-apa yang dibaca oleh penulis. Hasil karya akan dipengaruhi oleh ide/gagasannya, pemikiran, dan perasaan-perasaan yang didapat dari membaca, melihat, mendengar, merasakan, dan cara lainnya.

Ketiga, menulis boleh jadi adalah respon dari apa yang saya alami, saya amati, dan saya tahu. Konsepnya hampir mirip dengan pandangan pertama tentang menulis adalah terapi. Tetapi, pandangan ketiga ini lebih mengarah pada daya cipta setelah ada kejadian ‘sesuatu’. Semacam reaction atau reaksi yang ditimbulkan oleh aksi di luar diri kita. Misalnya, ada seorang ibu-ibu menulis sebuah puisi yang sangat berbau SARA. Kebetulan saya berada di pihak yang merasa ‘dirugikan’. Maka, saya terdorong untuk membuat sebuah karya balasan untuk mengimbangi puisi ibu itu. Boleh jadi puisinya berisi tentang ‘menyakiti’ balik atau meluruskan pemikirannya.

Contoh lain misalnya, saya sedang mengalami perasaan jatuh cinta atau patah hati, maka saya akan banyak membuat karya-karya seputar itu. Dan itulah perwujudan respon dari apa yang saya alami. Misalnya, karya saya yang ditulis berdasarkan hasil respon dari apa yang saya amati adalah buku Hujan Cinta. Di dalamnya terhimpun berbagai jenis tulisan, seperti sketsa, puisi, dan prosa yang bertema tentang ekspresi cinta seorang remaja yang salah cara mengungkapkannya. Saya menuliskannya dengan tenang, nyaman, tanpa beban. Sebab, seluruh bahan dari buku itu adalah apa-apa yang sering saya amati dan lama saya tangani dengan teman-teman lainnya. Saya sering mendapat curhatan teman-teman, melihat berita tentang permasalahan remaja, dan saya aktif di komunitas remaja. Dan itulah yang membuat saya menjadi lebih mudah untuk meresponnya dengan karya. Karena permasalahan itu adalah permasalahan yang dekat dengan kehidupan saya dan yang seringkali saya amati. Begitu pula ketika saya menuliskan buku Yang Akan Tiba. Hampir seluruh isinya adalah respon saya terhadap pemikiran dan perasaan-perasaan yang sedang saya alami; juga kejadian-kejadian yang menimpa saya. Maka, begitulah konsep menulis adalah respon, bagi saya.

Semua penulis atau penyair punya pandangannya masing-masing tentang kegiatan menulisnya itu sendiri. Boleh jadi antara satu penulis dengan penulis lainnya, sudut pandangnya berbeda. Hal itu bukan sebuah masalah. Tetapi, justru harus disyukuri, karena dengan begitu, sudut pandang tentang kegiatan menulis menjadi lebih kaya dan dapat dipelajari secara luas.

Mari, kembali kepada bahasan utama. Tubuh atau rumah bagi ide/gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan (selanjutnya kita sebut saja dengan karya sastra agar tidak terlalu panjang menuliskannya) ternyata ada berbagai bentuk dan jenisnya. Bentuknya boleh jadi fiksi atau nonfiksi. Sementara jenis karya sastra fiksi mencakup prosa, puisi, dan drama. Sedangkan jenis karya nonfiksi mencakup biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra. Saya akan sedikit membahas tentang puisi dan prosa.

PENGERTIAN PUISI DAN PROSA

Soal puisi, banyak yang telah urun pendapat tentang pengertiannya. Berikut beberapa ahli yang telah saya pilih untuk saya jadikan patokan arti puisi menurut pandangan saya.

  1. Menurut H.B. Jassin menyatakan bahwa puisi ialah sebuah pengucapan dengan sebuah perasaan yang didalamnya mengandung sebuah fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan.
  2. Menurut Waluyo menyatakan bahwa puisi ialah sebuah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan sebuah kata-kata kias “imajinatif”.
  3. Menurut kamus istilah sastra sudjiman menyatakan bahwa puisi ialah sebuah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh sebuah irama, matra, rima serta sesuatu penyusunan larik dan bait.
  4. Menurut Herman J. Waluyo menyatakan bahwa puisi ialah sebuah bentuk karya sastra yang mengungkapkan suatu pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian sebuah struktur fisik dan struktur batinya.
  5. Mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar dengan makna yang tersirat, dimana kata-katanya condong pada makna konotatif.
  6. Mengungkapkan bahwa puisi merupakan genre sastra yang sangat memperhatikan pemilihan aspek kebahasaan, efek keindahan dari puisi diperoleh dari pemilihan bahasa terutama aspek diksi yang menyangkut unsur bunyi, bentuk dan makna puisi.

Dari seluruh pengertian puisi para ahli di atas saya mencoba menggali dan menemukan satu benang merah. Saya mendapatkan bahwa puisi adalah salah satu jenis karya sastra yang memperhatikan aspek kebahasaan, nilai estetika, dan mengandung makna. Jenis karya sastra puisi mencakup pantun, syair, gurindam, mantra, dll.

Soal prosa, beberapa ahli saya kutip pendapatnya. Sebagai berikut.

  1. Menurut Zainuddin (1991), Prosa adalah pengungkapan peristiwa secara jelas dengan penguraikan seluruh pikiran dan juga seluruh perasaan serta tidak terikat syarat-syarat tertentu dalam sebuah karya sastra.
  2. Saleh Saad Dan Anton M. Muliono berendapat bahwa Prosa adalah suatu bentuk narasi berplot yang dihasilkan oleh daya imajinasi.
  3. Menurut Teeuw (1984), Prosa adalah suatu bentuk kisah fiksi yang mencoba membeberkan suatu kenyataan.
  4. Menurut Herman J. Waluyo (2006), Prosa Fiksi adalah karya sastra dibagi menjadi tiga yaitu roman, novel dan cerita pendek atau cerpen.
  5. Di dalam KBBI disebutkan bahwa Prosa adalah karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi)

Jadi, dari seluruh pendapat para ahli di atas, prosa diartikan sebagai karangan yang mengungkapkan peristiwa (berplot) secara jelas dengan uraian pemikiran dan perasaan dan tidak terikat oleh syarat-syarat atau kaidah yang terdapat dalam puisi. Prosa mencakup roman, novel, cerpen, dll.

REFERENSI UNTUK BELAJAR MENULIS PUISI DAN PROSA

  1. Beda Puisi dan Prosa serta Cara penulisannya

https://matapuisi.com/2018/03/23/nikmat-prosa-nikmat-puisi/

  1. Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi

https://matapuisi.com/2018/04/04/mengolah-bahan-sejarah-menjadi-puisi/

  1. Menyelidik Diksi Puisi

https://matapuisi.com/2018/03/27/menyelidik-diksi-puisi/

  1. Menulis Puisi dari Pengalaman

https://matapuisi.com/2018/03/24/alami-lupakan-lalu-puisikan/

  1. Yang Liris Yang Imajis

https://matapuisi.com/2018/03/26/yang-liris-dan-yang-imajis/

  1. Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi?

https://matapuisi.com/2018/03/23/apa-yang-kita-dapatkan-dari-puisi/

  1. Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis

https://matapuisi.com/2018/03/23/puisi-yang-prosais-prosa-yang-puitis/

  1. Jalan Kelahiran Puisi Hebat

https://matapuisi.com/2018/03/18/jalan-kelahiran-puisi-hebat/

  1. Praktik Menulis Puisi Dasar (Buat satu puisi menggunakan rumus ini)

https://matapuisi.com/2017/10/08/menulis-puisi-dasar-1/

REFERENSI SUMBER BACAAN UNTUK MENGAYAKAN BAHAN TULISAN

http://haripuisi.com/

https://fiksilotus.com/extra/

https://www.storial.co/

https://www.wattpad.com/

Unduh versi pdf di sini.

Iklan

Diterbitkan oleh

agoytama

Author. Designer. Founder @ruangrasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s